https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/issue/feed SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual 2026-06-02T10:42:05+08:00 Dr. Febriaman Lalaziduhu Harefa., CIQaR up2mstte@gmail.com Open Journal Systems <p class="isSelectedEnd"><strong>SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual</strong> adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh <strong>Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim</strong> dan memiliki <strong>ISSN 2541-3937 (Print)</strong> serta <strong>ISSN 2685-2144 (Online)</strong>. Jurnal ini bertujuan mempublikasikan hasil penelitian, kajian ilmiah, penelitian terapan, dan telaah akademik dalam bidang <strong>teologi Kristen dan pendidikan Kristen</strong>, khususnya yang bercorak <strong>teologi Injili</strong> dan berorientasi pada pengembangan pemikiran serta pelayanan Kristen yang kontekstual.</p> <p class="isSelectedEnd">SCRIPTA menerima artikel dari berbagai subdisiplin teologi dan pendidikan Kristen yang membahas isu-isu teologis, gerejawi, pendidikan, dan pelayanan yang relevan dengan perkembangan masyarakat dan gereja. Fokus kajiannya meliputi <strong>Teologi Perjanjian Baru, Teologi Perjanjian Lama, Teologi Sistematika, Pastoral Konseling, Sejarah Gereja, Kepemimpinan Kristen, Misi, dan Pendidikan Agama Kristen</strong>.</p> <p class="isSelectedEnd">Setiap artikel yang masuk melalui proses <strong>peer review</strong> dan <strong>blind review</strong> setelah memenuhi persyaratan serta pedoman penulisan yang ditetapkan. SCRIPTA diterbitkan <strong>dua kali dalam setahun, pada bulan Mei dan November</strong>.</p> <p>SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual telah memperoleh <strong>akreditasi nasional Peringkat 4</strong>, berdasarkan Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Nomor <strong>355/DST/D.D1/HM.01.01/2026 tanggal 24 Juli 2026</strong>, dengan status akreditasi berlaku mulai <strong>Volume 15 Nomor 1 Tahun 2023 sampai Volume 19 Nomor 2 Tahun 2027</strong>.</p> https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/1070 Eklesiologi Kesatuan: Pergulatan Gereja antara Perpecahan dan Panggilan dalam Konteks Kontemporer 2026-04-30T09:56:15+08:00 Jabes Pasaribu jabespasaribu031@gmail.com Michael Frisky Purba mic26022006@gmail.com <p>Gereja kontemporer menghadapi paradoks eklesiologis yang mendasar: di satu sisi, Yesus berdoa agar umat-Nya menjadi satu (Yoh. 17:21), namun di sisi lain, realitas historis dan empiris memperlihatkan fragmentasi yang terus berkembang. Artikel ini bertujuan menganalisis pergulatan kesatuan gereja dari perspektif eklesiologi, dengan menelusuri akar teologis perpecahan, makna keesahan gereja, serta relevansi fungsi dan panggilan gereja dalam konteks masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan teologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa perpecahan gereja tidak semata-mata bersumber dari perbedaan doktrin, melainkan dari kegagalan dalam menghidupi nilai-nilai eklesiologis yang substansial: kesatuan tubuh Kristus, integritas kepemimpinan, dan komitmen terhadap misi. Artikel ini menyimpulkan bahwa keesahan gereja hanya dapat diwujudkan melalui pemulihan identitas teologis gereja sebagai tubuh Kristus yang hidup, bukan sekadar keseragaman institusional. Kontribusi artikel ini terletak pada penawaran kerangka refleksi eklesiologis yang integratif bagi gereja-gereja di Indonesia dalam menghadapi tantangan fragmentasi denominasional.</p> 2026-06-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2026 02 Juni 2026 https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/218 Peranan Pastoral Konseling dalam Pemulihan Kedukaan Bagi Jemaat yang Ditinggalkan oleh Pasangannya 2025-04-23T10:57:14+08:00 Jonny Samuel jonnysamuel3107@gmail.com Leo Runesi leonardusrunesi@gmail.com <p><em>The loss of a spouse is a traumatic event that affects the emotional, social, spiritual, and economic aspects of the bereaved individual. This study aims to analyze the role of pastoral counseling in supporting grief recovery among church members who have lost their spouses, particularly in the post–COVID-19 context. The main issue addressed is the lack of a holistic pastoral approach that integrates psychological, spiritual, and socio-economic dimensions. Using a descriptive qualitative method, data were collected through observation, in-depth interviews, and literature review to understand the emotional experiences of congregants and the effectiveness of church pastoral care. The pastoral approach is based on Kübler-Ross’s five stages of grief, Worden’s four tasks of mourning, Pargament’s concept of religious coping, and Sen’s Capability Approach for economic empowerment. The results indicate that pastoral counseling combining healing and empowering dimensions effectively enhances emotional recovery, strengthens faith, restores social function, and promotes financial independence among grieving congregants. Evaluation using the Five Dimensions of Pastoral Care model demonstrates significant improvement across emotional, spiritual, social, economic, and community support aspects. The study concludes that a comprehensive and sustainable pastoral strategy is essential to accompany bereaved church members through their grief and help them rebuild a meaningful and holistic life</em><em>.</em></p> 2026-06-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2026 02 Juni 2026 https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/1060 Polemik Pengungsi Asing di Indonesia: Keberpihakan dalam Kitab Suci dan Ensiklik Fratelli Tutti 2026-05-15T11:39:51+08:00 Alfian Tanggang alfiantanggang28@gmail.com <p>Tulisan ini hadir untuk membedah polemik penerimaan pengungsi asing di Indonesia. Persoalan yang ada penulis bedah menggunakan perspektif persaudaraan sejati dalam Ensiklik <em>Fratelli Tutti, </em>sekaligus mencari argumen pembelaannya dalam Kitab Suci. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, melalui bacaan dari berbagai buku, jurnal, dan dokumen Gereja. Tujuan penulisan ini untuk merumuskan pandangan baru yang lebih inklusif, dalam diri setiap orang Kristen dalam menyikapi persoalan pengungsi asing di Indonesia. Sebab, Indonesia sendiri tidak memiliki rancangan kerja atau pengalokasian dana khusus untuk penanganan pengungsi asing yang masuk ke dalam negeri, sedangkan di lain pihak, Indonesia mesti tetap menerima kedatangan para eksodus atas nama kemanusiaan. Situasi ini akhirnya menimbulkan masalah baru berupa ketegangan sosial antara masyarakat lokal di beberapa daerah dengan kelompok pengungsi asing di dalam negeri. Padahal, menurut Paus Fransiskus, dalam Ensiklik <em>Fratelli Tutti</em>, fenomena pengungsian global dipandang sebagai awan gelap yang memerlukan uluran tangan setiap orang tanpa terkecuali. Sebab, sejatinya setiap manusia dipanggil untuk berjumpa dan mengalami berbagai peristiwa unik yang Tuhan kehendaki baik bagi ciptaan-Nya, termasuk dalam perjumpaan dengan para pengungsi. Oleh karena itu, menurut Paus Fransiskus, tidaklah pantas apabila beban penderitaan yang telah dipikul para pengungsi mesti ditambahkan lagi dengan beban yang diciptakan oleh sikap penolakan terhadap keberadaan mereka. Lebih dari itu, keberpihakan Paus Fransiskus terhadap para pengungsi merupakan bentuk pengalaman atas keberpihakan Allah terhadap kelompok marginal ini, seturut narasi Kitab Suci. keberpihakan Allah kepada para pengungsi dapat ditelusuri di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. </p> 2026-06-02T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2026 02 Juni 2026