https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/issue/feed SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual 2022-07-14T00:00:00+07:00 Febriaman Lalaziduhu Harefa lp2mebenhaezer@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>FOKUS : </strong>Teologi Perjanjian Baru, Teologia Perjanjian Lama, Teologi Sistematika, Pastoral Konseling, Sejarah Gereja, Kepemimpinan Kristen, Misiologi dan Pendidikan Agama Kristen.</p> https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/150 Apologetika Paulus Dalam Kisah Para rasul 26: Pembelaan Iman atau Pemberitaan Iman? 2022-03-01T08:06:30+07:00 Dennie Olden Prans dennie.frans@gmail.com <p class="TableParagraph" style="text-align: justify; margin: 3.15pt 5.05pt .0001pt 6.75pt;"><span lang="id">Pada umumnya apologetika dipahami sebagai suatu upaya pembelaan <span style="letter-spacing: -.05pt;">iman,</span> namun jika mempelajari apologetika Paulus dalam Kisah Para Rasul 26, menunjukkan bahwa apologetika yang dilakukan Paulus adalah pembelaan terhadap dakwaan melanggar hukum dengan memberi jawab dalam pengadilan. Dalam pembelaan di depan pengadilan, Paulus membuktikan bahwa dakwaan yang ditujukan kepadanya tidak benar dan sekaligus memakai apologetika untuk memberitakan imannya. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan kajian terhadap Kisah Para Rasul 26 untuk mengetahui apologetika Paulus dan bagaimana ia membela diri terhadap dakwaan melanggar hukum dan memakai apologetika sebagai kesempatan untuk memberitakan imannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan menerapkan prinsip <span style="letter-spacing: -.05pt;">hermeneutika</span> <span style="letter-spacing: -.05pt;">untuk</span> menganalisis teks. Selanjutnya, karena pembahasan ini didasarkan pada naskah kitab Kisah Para Rasul 26 yang tertulis dalam Alkitab, maka apologetika rasul Paulus adalah ajaran dan teladan bagi hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan pada masa kini.</span></p> 2022-05-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2022 SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/162 Gereja Di Tengah Pusaran Era Post Truth 2022-05-30T09:59:46+07:00 Ayub Abner Martinus Mbuilima yu6a@yahoo.com Ferdinan Pasaribu ferdinanmarcos1994@gmail.com <p><em><span style="font-weight: 400;">Abstrak</span></em></p> <p><span style="font-weight: 400;">Era Informasi digital telah membuat dunia menjadi global yang memungkinkan manusia dapat memiliki apa yang diinginkan secara cepat atau instant. Namun dalam sisi yang lain, Dunia digital juga memberikan peluang yang sangat pesat bagi berita-berita hoaks/palsu.Tahun 2016 berita palsu disebut dengan istilah Post Truth yang menjadi Word of the Year. Ini menandakan bahwa berita hoaks/palsu telah mewarnai seluruh dunia melalui media digital.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">MetodePenelitian yang yang digunakan adalah penelitian yang bersumber dari kepustakaan melalui cara mengumpulkan bahan seperti dokumen, buku-buku Tafsiran Alkitab, buku-buku teologi, artikel, majalah ataupun berita-berita yang terkait. Diharapkan Gereja harus memberikan responnya terhadap pengarud era Post Truth sehingga dunia masih melihat kebenaran Allah melalui Gereja-Nya yang sejati.</span></p> <p> </p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Abstract</span></em></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">The digital information era has made the world global which allows humans to have what they want quickly or instantaneously. But on the other hand, the digital world also provides a very rapid opportunity for hoax/fake news. In 2016 fake news was called Post Truth which became the Word of the Year. This indicates that hoax/fake news has colored the whole world through digital media. The research method used is research sourced from the literature by collecting materials such as documents, Bible interpretation books , theological books, articles, commentary,magazines or related news. It is hoped that the Church must respond to the Post Truth era so that the world still sees God's truth through His true Church.</span></em></p> 2022-05-28T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2022 28 Mei 2022 https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/158 Diferensiasi Hermeneutika Dalam Upaya Preventif Membaca Alkitab Satu Jam Sehari Di Era “New Normal” Pasca Pandemi Corona Virus Disease-19 2022-05-10T11:26:23+07:00 Polman Sinaga polmansinaga7788@gmail.com <p>Dalam upaya preventif membaca Alkitab satu jam sehari di era new normal Pasca Covid-19 dapat menolong umat Tuhan untuk lebih giat, rajin dalam kebiasaan membaca Alkitab setiap hari. Mempelajari firman Tuhan dan membaca Alkitab setiap hari adalah sangat penting dan satu keharusan bagi setiap umat Tuhan. Umat Tuhan diberikan pemahaman bahwa membaca Alkitab dengan ketekunan dan tuntunan Roh Kudus akan mendapatkan kekuatan iman yang bertumbuh. Pengalaman umat Tuhan yang menyediakan waktu setiap hari untuk membaca Alkitab didapati mereka lebih kuat, semangat dan lebih bersyukur kepada Tuhan. Tiada hari tanpa membaca Alkitab adalah semboyan yang harus dimiliki oleh umat Tuhan. Ada banyak hal, ada banyak pengetahuan dan pemahaman yang dapat menambah iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan. Alkitab sesungguhnya adalah surat cinta dari Tuhan kepada seluruh umat manusia. Tuhan sangat mencitai kita semua. Diharapkan hasil dari penelitian ini umat Tuhan jangan pernah ragu dan lupa untuk membaca Alkitab. Karena semakin rajin dan tekun kita membaca dan mempelajari firman Tuhan (Alkitab), ketenangan hati dan rasa damai akan kita rasakan setiap hari.</p> 2022-05-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2022 SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/151 Pentingnya Penerapan Pola Asuh Dalam Kolose 3:21 Dan Efesus 6:4 Terhadap Anak Usia 1-5 Tahun 2022-03-30T08:38:19+07:00 Riky Handoko Sitindaon rickysitindaon@gmail.com Putri Rosinta Sianturi rosintaputri44@gmail.com <p>Setiap orang tua selalu memiliki cara tersendiri dalam mengasuh atau mendidik anak-anaknya. Tidak jarang banyak orang tua melalaikan pola asuh yang benar sesuai dengan Firman Tuhan. Pola Asuh yang benar akan menjadikan anak bertumbuh dengan benar juga, pola asuh yang salah akan menjadikan anak bertumbuh menjadi pribadi yang kehilangan identitas. Pola Asuh berdasarkan Firman Tuhan merupakan penerapan yang tepat, apalagi jika dimulai sejak dini yakni usia 1-5 tahun. Usia ini adalah usia emas dimana anak mulai memahami banyak hal dan mulai menyimpan memori-memori yang mereka lihat dalam pertumbuhan mereka. Mengasuh anak tidaklah mudah, terkadang ketidaksabaran orang tua dalam mengasuh anak mengakibatkan anak mendapat pola asuh yang salah, dipukul saat tidak taat, dibentak saat menangis, bahkan ada yang rela mengurung di tempat yang sempit. Pola asuh yang salah akan menimbulkan karakter yang buruk pada anak. Maka, pada tulisan ini akan mengulas tentang Pentingnya Penerapan Pola Asuh Dalam Kolose 3:21 Dan Efesus 6:4 terhadap Anak Usia 1-5 Tahun. Metode yang digunakan metode deskriptif bibliologis dengan mendahului penafsiran Alkitab. Hasil penelitian menemukan pentingya pola asuh kepada anak usia 1-5 tujuannya agar para orang tua sadar bahwa anak itu adalah anugerah Tuhan yang harus di didik dengan penuh kasih sayang, dan tentunya sesuai dengan pola yang benar berdasarkan Alkitab.</p> 2021-05-28T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2022 28 Mei 2022 https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/159 Karakter Guru Pendidikan Agama Kristen Berdasarkan Efesus 4:1-2 2022-04-25T08:37:16+07:00 Elfrida Siringo ringo siringoringo.elfrida@gmail.com <p>Karakter menjadi sangat penting dimiliki seorang guru Pendidikan Agama Kristen karena ini mencerminkan integritas pribadi yang mantap, kepribadian yang dewasa, berpikir positif, adil, jujur dan obyektif, berdisiplin dalam melaksananakan tugas, arif, berwibawa dan dapat menjadi teladan. Dalam kaitannya dengan tugas guru sebagai pendidik yang tidak hanya mentransferkan ilmu kepada peserta didik namun lebih daripada itu bisa menunjukkan kehidupan yang berkualitas. Spesifik dalam teks Efesus 4:1-2, guru harus menyadari panggilannya. Keterkaitan antara panggilan ilahi dan gaya hidup guru perlu untuk dipahami. Karakter atau gaya hidup merupakan respon terhadap karya Allah didalam hidup ini. Perwujudan dari panggilan itu tentu saja sangat beragam. Namun dalam konteks ini Rasul Paulus hanya menyoroti aspek sosial tentang bagaimana seharusnya berinteraksi dengan yang lain yakni dengan memiliki sikap yang rendah hati, lemah lembut dan sabar. Penelitian ini&nbsp; menggunakan&nbsp; metode&nbsp; kualitatif,&nbsp; dengan&nbsp; melakukan tinjauan pustaka dari beberapa buku-buku, jurnal dan Alkitab yang berhubungan dengan karakter guru secara khusus dalam Surat Efesus 4:1-2 dengan menganalisa literatur yang ada sehingga dapat disimpulkan menjadi sebuah petunjuk bagi guru Pendidikan Agama Kristen masa kini.</p> 2022-05-28T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2022 28 Mei 2022 https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/152 Konsep Paulus Tentang “Kesatuan Tubuh Kristus” Menurut 1 Korintus 12: 12-13 Dan Efesus 4: 16 2022-03-28T09:59:58+07:00 Lamtota Manalu lamtotamanalu310@gmail.com <p>Pada era ini gereja sering saling tidak memperdulikan satu dengan yang lain dan akibatnya perpecahan yang terjadi dan tidak menciptakan satu tubuh yang efektif. Jadi setiap gereja atau orang percaya seharusnya menyadari apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota tubuh Kristus. Itu sebabnya dalam bagian yang penulis bahas bahwa berbagai gereja atau keragaman gereja tetap pada satu tubuh, yaitu Kristus sebagai tubuh dan gereja sebagai anggota tubuh dan hal ini perlu harus diketahui dengan benar agar tidak menjadi suatu pendangan yang salah dalam memahami konsep kesatuan anggota tubuh Kristus.&nbsp; Berbagai pandangan yang keliru mengenai kesatuan anggota tubuh Kristus.&nbsp;&nbsp;</p> <p>Metode yang digunakan oleh penulis dalam penulisan karya ilmiah ini adalah metode kualitatif, yang dilakukan pada natural setting karena penelitiannya langsung kepada sumber data dan peneliti itu sendiri menjadi instrumen kunci.</p> <p>Kesatuan sudah selayaknya dimiliki oleh setiap denominasi ketika memahami akan konsep kesatuan tubuh Kristus yang benar. Konsep yang benar dalam memahami kesatuan tubuh Kristus sesuai dengan Firman Allah akan mendapatkan kesatuan dalam denominasi gereja apapun</p> 2022-05-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2022 30 Mei 2022