https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/issue/feed SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual 2026-02-18T13:25:06+08:00 Dr. Febriaman Lalaziduhu Harefa., CIQaR up2mstte@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>FOKUS PENELITIAN : Teologi Perjanjian Baru, Teologia Perjanjian Lama, Teologi Sistematika, Pastoral Konseling, Sejarah Gereja, Kepemimpinan Kristen, Misiologi dan Pendidikan Agama Kristen.</strong></p> https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/58 Tinjauan Etis Terhadap Gereja-gereja Yang Menetapkan Jemaat Memberi Iuran Kepada 2020-06-24T02:00:40+08:00 Marlon Butarbutar marlonbutarbutar1968@gmail.com Sri Wahyuni Kusradi Yunikusradi@gmail.com <p><em>Gereja hadir dalam dunia ini sebenarnya adalah untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Oleh sebab itu, maka gereja mempunyai tugas untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Tuhan Yesus (Mat. 28: 18-20). Dimana yang dipakai Tuhan sebagai alat dalam melakukan dan melaksanakan akan kehendak-Nya adalah melalui gereja. Baik gereja sebagai tubuh Kristus yang di dalam Perjanjian Baru adalah umat, orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk keluar dari kegelapan dan masuk dalam terang-Nya untuk menjadi saksi Kristus maupun gereja dalam bentuk fisik, maksudnya adalah gereja sebagai gedung atau tempat yang dipakai orang-orang percaya untuk bersekutu dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Melihat hal tersebut maka, titik utama gereja ada dan hadir adalah hanya untuk kemuliaan Tuhan. Salah satu ketentuan kewajiban jemaat yang ada dalam gereja adalah ”setiap jemaat, harus membayar persembahan bulanan setiap bulan kepada gereja”. Apabila tidak dilunasi, konsekuensinya adalah apabila ada kejadian dalam jemaat tersebut, seperti: baptisan, pemberkatan nikah. Itu semuanya tidak akan terlaksana, sebelum kewajiban tersebut terlunasi. Jadi, ketentuan ini bukan hanya mengikat jemaat untuk datang bersekutu atau beribadah dan membuat jemaat terikat pada gereja tersebut dan tidak mudah untuk pindah gereja, melainkan dalam tindakannya sudah ada sikap memaksa jemaat untuk membayar kewajiban kepada gereja. Berdasarkan hal di atas terlihat jelas bahwa jemaat memberi kepada gereja bukan dengan ketulusan dan sukacita. Tetapi memberi dengan keterpaksaan dan adanya sanksi atau konsekuensi bagi jemaat yang tidak memberikan persembahan bulanan terhadap gereja. Ini sangat mendorong penulis untuk meneliti sehingga menjadi suatu pertimbangan bagi gereja yang memberi kewajiban jemaat membayar iuran kepada gereja.</em></p> <p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp; The church present in this world is actually to praise and glorify God. Therefore, the church has a duty to make all nations disciples of the Lord Jesus (Matt. 28: 18-20). Where God uses as a tool in doing and carrying out His will is through the church. Both the church as the body of Christ in the New Testament are people, people who are called by God to come out of the darkness and enter into His light to be witnesses of Christ and the church in physical form, meaning the church as a building or place used by people believers to fellowship in praising and glorifying God. Seeing this, the main point of the church being and present is only for the glory of God. One of the provisions of the congregation's obligations in the church is "every church, must pay monthly offerings every month to the church". If not paid, the consequence is if there is an incident in the church, such as: baptism, marriage blessing. That all will not be realized, before the obligation is paid. So, this provision does not only bind the congregation to come to fellowship or worship and make the congregation bound to the church and it is not easy to move the church, but in its action there is already an attitude of forcing the congregation to pay obligations to the church. Based on the above it is clear that the congregation gave to the church not with sincerity and joy. But giving with force and the existence of sanctions or consequences for congregations who do not provide monthly offerings to the church. This strongly encourages the writer to examine so that it becomes a consideration for the church which gives the congregation an obligation to pay contributions to the church. </em></p> 2020-06-24T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2019 28-05-2019 https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/59 Merajut Anugerah Dalam Penginjilan Holistik 2020-06-24T02:07:12+08:00 Aris Elisa Tembay Aristembay@gmail.com Eliman Elimanandef@gmail.com <p><em>Kejatuhan manusia kedalam dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Manusia bukan saja harus menerima hukuman Allah secara rohani sebagai mahluk yang diciptakan dengan Kemuliaan Allah, namun secara fisik dan social mereka menerima ganjaran hukuman dari Allah. Kehidupan secara fisik berubah, dimana mereka kemudian menyadari bahwa dirinya dalam keadaan telanjang dan merasakan malu. Secara social mereka mengalami putusnya hubungan dengan Allah dan lingkungannya kemudian menjadi takut dan menyembunyikan diri dari hadapan Allah. Manusia kemudian menerima hukuman dari Allah yang berdampak secara rohani, dan juga jasmani. Mereka dibuang dari tempat kemuliaan kedalam dunia yang penuh dengan penderitaan sebagai akibat dari perbuatan dosa tersebut. Allah kemudian menunjukkan Kasih-Nya, dengan mencari manusia yang telah jatuh dalam dosa mengadakan pemulihan, akan tetapi tetap menegakkan keadilan dengan menjatuhkan hukuman-Nya dan mengadakan perjanjian akan Keselamatan bagi manusia berdosa. Rancangan keselamtan dari Allah inilah yang kemudian dilaksankan dengan Misio-Dei, dimana Allah mengutus Anak-Nya Yesus Kristus datang kedunia ini, para Nabi dan Rasul, kemudian Misio Eklesiae, dimana Allah menempatkan Gereja-Nya dan mengutus orang-orang percaya untuk memberitakan Injil Keselamatan. Injil Keselamatan itu adalah “Kabar Baik” dimana didalamnya ada berita tentang kelepasan manusia dari hukuman dosa. Dosa telah membuat manusia mengalami berbagai penderitaan, baik rohani, Jasmani juga hubungan berdampak pada lingkungan social. Pemulihan tidak hanya cukup pada tataran Rohani saja, karena dosa adalah permasalahan yang kompleksitas dan menyeluruh dalam kehidupan manusia didunia ini. Pelayanan “Holistik” adalah upaya untuk memulihkan keberadaan manusia seutuhnya, baik secara spiritual dimana manusia diperdamaikan dengan Allah tetapi juga secara mental dimana&nbsp;&nbsp; manusia dibangkitkan kembali semangatnya untuk memperjuangkan kehidupannya didunia ini. Dengan demikian Injil bukan saja menyelesaikan perkara-perkara rohani saja, akan tetapi juga berdampak pada kehidupan social masyarakat, karena itulah tugas Gereja untuk melakukan tiga hal penting dalam dunia ini:&nbsp;&nbsp; Marturia, Koinonia, dan Diakonia. Inilah merupakan bagian dari pelayanan yang bersifat “Holistik”&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em></p> <p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Man's fall into sin has made man lose the glory of God. Humans must not only receive God's punishment spiritually as a creature created with the Glory of God, but physically and socially they receive punishment from God. Life physically changes, where they then realize that they are naked and feel ashamed. Socially, they experience a break with God and their environment and become afraid and hide themselves from God. Humans then receive punishment from God that impacts spiritually, and also physically. They are banished from the place of glory in a world full of suffering as a result of these sins. God then shows His love, by searching for people who have fallen into sin to make restoration, but still uphold justice by dropping His punishment and entering into a covenant of Salvation for sinful humans. This salvation design from God was then carried out by Misio-Dei, where God sent His Son Jesus Christ to come into this world, the Prophets and Apostles, then Misio Eklesiae, where God placed His Church and sent believers to preach the Gospel of Salvation. The Gospel of Salvation is the "Good News" in which there is news about human deliverance from the penalty of sin. Sin has caused people to experience various sufferings, both spiritual, physical and also the relationship has an impact on the social environment. Restoration is not only enough at the Spiritual level, because sin is a complex and comprehensive problem in human life in this world. "Holistic" service is an effort to restore the whole human existence, both spiritually where humans are reconciled with God but also mentally where humans are reawakened to fight for their lives in this world. Thus the Gospel not only resolves spiritual matters, but also has an impact on the social life of the community, because that is the Church's duty to do three important things in this world: Marturia, Koinonia, and Diakonia. This is part of the service that is "Holistic". </em></p> 2020-06-24T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2019 28-05-2019 https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/60 Pentingnya Tongkat Didikan Dalam Pola Asuh Anak Berdasarkan Amsal 22:15 Sebagai Evaluasi Terhadap Permissive Parenting 2020-06-24T02:13:05+08:00 Obet Nego Obetnego82@gmail.com Debby Chirst Mondolu debtbychrist@gmail.com <p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keluarga adalah kelompok sosial yang paling kecil, terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dimana individu berada untuk mempelajari banyak hal penting dan mendasar melalui pola asuh dan binaan orang tua serta anggota keluarga lainnya. Orang tua mempunyai peran penting bagi pertumbuhan jiwa anak dan dalam meletakkan dasar-dasar kepribadian anak, sebab orang tua merupakan pendidik, pembimbing, dan pelindung bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, pembimbingan orang tua terhadap anak haruslah yang alkitabiah. Salah satunya untuk mengatasi permasalah Permissive Parenting yang banyak terjadi di dalam rumah tangga. Dengan demikian, Amsal 22: 15 dinilai sangat tepat untuk menjadi landasan untuk menjawab kekeliruan pola asuh yang selama ini umum terjadi di keluarga-keluarga Kristen. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai makna Tongkat Didikan dalam Pola Asuh anak berdasarkan Amsal 22: 15. </em></p> <p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; The family is the smallest social group, consisting of father, mother and child. The family is the first social group where individuals are to learn many important and fundamental things through parenting and fostering parents and other family members. Parents have an important role for the child's soul growth and in laying the foundations of the child's personality, because parents are educators, guides, and protectors for their children. Therefore, parental guidance for children must be biblical. One of them is to overcome Permissive Parenting problems that often occur in the household. Thus, Proverbs 22:15 is considered very appropriate to be the basis for answering the errors of parenting that have been common in Christian families. In this paper, the author will discuss the meaning of the Educational Stick in Parenting based on Proverbs 22:15.</em></p> 2020-06-24T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2019 28-05-2019 https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/61 Tinjauan Alkitabiah Terhadap Falsafah Jawa ”Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” 2020-06-24T02:31:14+08:00 I Made Suharta Imsuharta.te@gmail.com Kristina Herawati Kristinasuharta@gmail.com 2020-06-24T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2019 28-05-2019 https://ejournal.stte.ac.id/index.php/scripta/article/view/62 Konstruksi Kristologi Di Bumi Indonesia 2020-06-24T02:44:16+08:00 Febriaman Lalaziduhu Harefa febriaman.harefa.h24@gmail.com Jeane Paath Jeanepaath@gamil.com Ferdinan Pasaribu ferdinanmarcos1994@gmail.com <p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kristologi adalah pusat dari disiplin ilmi teologi, karena dalam studi Kristologi memuat tentang Pribadi dan Karya Yesus Kristus dalam rangka penyelamatan umat manusia dari dosa agar manusia memperoleh hidup yang kekal. Namun dewasa ini khususnya di Indonesia, finalitas doktrin Kristologi mengalami pergeseran makna oleh karena studi interpretasi radikal dari beberapa teolog. Bertolak dari pergumulan konteks dan didukung oleh filsafat Postmodern, mereka berusaha untuk melakukan Re-Kristologi yang selama ini diajarkan di dalam gereja-gereja dan menghasilkan model-model Kristologi Kontekstual khususnya yang berkenaan dengan konteks bumi Indonesia. Pendekatan Kristologi ini telah kehilangan makna serta identitasnya dan sangatlah berbeda dengan doktrin Kristologi sebagaimana yang dinyatakan oleh teks-teks Alkitab firman Allah. Kristologi yang benar adalah Kristologi yang bertolak dari pernyataan teks-teks Alkitab kemudian Kristologi tersebut menjawab problematika konteks khususnya di bumi Indonesia. </em></p> <p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Christology is the center of the scientific discipline of theology, because in the study of Christology it contains the Person and Work of Jesus Christ in the context of saving mankind from sin so that humans can have eternal life. But today especially in Indonesia, the finality of the Christology doctrine has shifted in meaning because of the study of radical interpretations of some theologians. Starting from the struggle of context and supported by Postmodern philosophy, they tried to do Re-Christology that had been taught in the churches and produced contextual Christology models especially with regard to the context of the Indonesian earth. This Christological approach has lost its meaning and identity and is very different from the Christological doctrine as stated by the biblical texts of God's word. The correct Christology is a Christology that departs from the statement of the biblical texts and then the Christology answers the problematic context especially in Indonesian soil. </em></p> 2020-06-24T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2019 28-05-2019